Kamis, 06 September 2012

KANDARPA SANG DEWA ASMARA

Mendengar kata asmara sangatlah menyenangkan. Sebuah hal yang indah dan setiap orang ingin menyelam di dalamnya. Adalah sebuah anugrah yang harus disyukuri setiap orang bahwasannya, manakala asmara datang, maka kehidupan baru itu juga akan datang.
            Identiknya dengan cinta. Sebab hidup, adalah indah karena cinta, ibaratkan musim semi yang datang dengan mbau aroma yang menyegarkan. Itulah Cinta. Secara spesifik, cinta adalah sebuah perasaan yang muncul akibat ketertarikan akan lawan jenis, ya laki-laki dengan perempuan tentunya. Namun apakah setiap lawan jenis ini tertarik satu sama lain dalam posisinya di hati ? belum tentu.
            Bibit cinta itu tumbuh dan ada karena satu hal yang setiap orang tidak akan pernah mengetahuinya secara pasti. Namun satu hal yang pasti, setiap pertemuan pertama yang mengawali sebuah jalinan kasih, maka  ada satu tangan yang menentukan itu secara garis terbentang dari angkasa yang tak terlihat. Maksudnya ada satu sosok dewata yang mengatur akan pertemuan jodoh dan jalinan cinta setiap manusia di muka bumi ini.
            Tidak banyak orang yang tahu akan keberadaan dewata ini. Terlebih lagi bagi orang awam, yang memandang cinta hanyalah sebuah ilusi dunia. Padahal tidak. Dewata inilah yang mnegadakan bahwa asmara dan cinta adalah nyata, ia ada dan membuat manusia hidup dengan penuh keindahan.
            Nama dewata itu tiada lain adalah Kandarpa. Sang dewa asmara. Ia adalah sosok dewata yang mengatur bagaimana pria ini bertemu dan jatuh hati dengan gadis yang ini, atau bagaimana pemuda ini bisa saling mencintai dengan wanita ini. Semuanya Kandarpalah yang mengaturnya.
            Ia seperti jerat pasa yang menangkap seseorang dan memenjarakannya dalam buaian kasih yang semerbak bunga. Paras Dewata ini sangatlah tampan. Bagaikan matahari pagi, kulitnya kekuning-kuningan, dan rambutnya yang panjang sangat menggoda hati.
            Di kuil ataupun mandir di India, Kandarpa di puja sebagai Madana, atau yang memberikan sebuah rasa hati bagi setiap mahluk. Ia memiliki seorang permaisuri yang sama tampannya, bernama Rati. Di Bali, khusunya agama Hindu Bali, Kandarpa di puja bersamaan dengan permaisuri beliau yang disebut dengan Semara Ratih. Inilah yang ngawrdiang bumi menjadi banyak penghuni.
            Angawe bhumi, dalam bale paselang jika terdapat sebuah upacara besar di Bali, maka gambar yang etrtera di sana adalah Samara Ratih. Kandarpa dan Rati. Merekalah dikatakan sebagai cikal bakalnya kehodupan dan menebar benih pertama dari kehidupan.
            Sri Krishna sendiri di dalam Bhagawad Gita menyatakan bahwa diantara yang memberikan keturunan, aku adalah Kandarpa. Dalam beberapa hal, Kandarpa diidentikkan dengan Kama. Dewa Kama adalah nama lain dari Kandarpa, ia dilukiskan dengan menggunakan mahkota besar dan jubah kuning serta memegang busur yang terbuat dari tebu.
            Busur inilah yang akan menembakkan panah cinta sang asmara tepat ke dalam hati manusia bila Kandarpan menginginkannya. Sudah pasti orang yang terkena panah asmara Kandarpa mengalami jatuh cinta pada seseorang.
            Suatu ketika, Kandarpa pernah mendapatkan sebuah kecelakaan besar yang fatal. Siwa adalah seorang maha yogi, ia duduk di Himalaya denga tenang, dan terpusat pada pikirannya untuk yoga. Namun dipihak lain para dewata ingin agar tapa Sang Hyang Siwa terganggu dan beliau jatuh hati para Dewi Parwati, karena satu alas an dimana putra Siwa akan mampu membinasahkan musuh para dewata bernama Tarakasura.
            Karena itulah dewa Indra datang dan memerintahkan Kandarpa harus menembakkan panah asmaranya ke dada Siwa agar Siwa jatuh hati pada Dewi Parwati. Ketika itu juga panah asmara Kandarpa melesat dan menembus dada Siwa yang bidang, alhasil Siwa seakan berada di tengah musim semi, dan beliau melihat dewi Parwati yag tengah berjalan didepannya.
            Terusik akan hal itu, Siwa berusaha untuk berkonsentrasi namun gagal. Asmara sudah semakin besar bergelora, dan Siwa jatuh hati pada Parwati. Namun Siwa adalah Siwa, ia adalah Mahadewa mengetahui segalanya. Dengan Jnana Saktinya, bhatara Siwa sadar bahwa ini adalah perbuatan dari Kandarp sendiri.
            Karena marah, Siwa kemudian mambakar Kandarpa dengan mata ketiganya dan menjadikan dewa asmra itu abu. Rati sangat bersedih akan kejadian itu, lalu dengan anugrah Siwa Kandarpa akan terlahir kembalis ebagai Pradyumna, di Dwaraka.
            Satu hal yang perlu digaris bawahi, Cinta itus eperti mawar. Ia indah namun berduri, terkadang ada sakit yang menerpa sang sejoli yangtengah mangadu asmara. Namun itu semua adalah warna dalam hisup, jika tidak berani sakit, maka janganlah bercinta. Tetapi ingat cinta seperti Kandarpa dan Rati, hanya satu istri ataupun suami. Salingsetia, dan saling kasih.(Gede Agus Budi Adnyana)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar